Jangan Buang Hajat ke Danau Toba, Nanti Penghuninya Marah

866
Foto: Dame Ambarita/Sumut Ppos Lomba Solu Bolon pada Festival Danau Toba 2013 di Tuktuk Siadong, Pulau Samosir, Sumut.
Foto: Dame Ambarita/Sumut Ppos
Lomba Solu Bolon pada Festival Danau Toba 2013 di Tuktuk Siadong, Pulau Samosir, Sumut.

BATAK.CO – Semasa kecil, orang-orangtua selalu bilang, “Jangan meludah ke Danau Toba, jangan buang sampah ke Danau Toba, apalagi buang hajat, nanti penghuninya marah, karena danau ini ada yang menjaga.”

 
Pesan sosial dari pantangan mitos di atas jelas mengandung makna, agar masyarakat di sekitar kawasan Danau Toba menjaga kebersihan dan kesucian Danau Toba. Tak heran jika Danau Toba sejak beratus-ratus tahun menjadi sumber air minum yang layak bagi warga setempat.

 
Penulis ingat persis kisah-kisah yang disampaikan para orang-orang tua, agar sampah apapun tidak dibuang ke Danau Toba. Tahun 1980, saat alat transportasi danau masih didominasi motor boat kecil yang digerakkan mesin, hingga jika kita julurkan tangan ke samping boat, kita bisa menyentuh Danau Toba.

 
Konon jika ada yang membuang sampah ke danau, kapal langsung tidak bisa bergerak meski mesin tetap hidup. Setelah orang-orang yang ’mengerti’ memberi setangkup dua tangkup sirih ke danau, barulah boat kembali bergerak.

 
Cerita lain lebih seram lagi. Konon jika ada anak-anak yang BAB di kapal, orangtuanya takut membuang kotoran itu ke danau. Karena pernah ada yang melakukannya, dan boat langsung tidak bisa bergerak. Bahkan setelah setangkup sirih dilemparkan ke danau pun, tetap tidak ada gunanya. Akhirnya pemilik kapal, dengan dalih menyelamatkan orang banyak, merebut si anak yang kotorannya dibuang ke danau dari tangan ibunya. Niatnya jelas, akan mengurbankan si anak ke danau. Si ibu yang tidak rela anaknya dilempar, ikut melompat ke danau untuk memperjuangkan anaknya dan keduanya mati tenggelam. Konon setelah tu, kapal kembali bisa bergerak.

 
Benarkah seluruh cerita-cerita itu? Wallahualam…. Selama penulis naik kapal melintasi Danau Toba, belum pernah ada kejadian kapal tidak bergerak. Tetapi semasa penulis kanak-kanak hingga remaja, hampir tidak ada yang berani membuang sampah ke Danau Toba. Hasilnya, air Danau Toba selalu bening dan indah. Dasarnya bisa terlihat jelas dari atas permukaan hingga kedalaman tiga meter.

 
Kini, mitos pantang membuang sampah ke Danau Toba semakin meluntur, bahkan boleh dibilang hampir punah akibat modernisme dan pengaruh budaya masa kini.

 
Sejak isu pencemaran udara menjadi konsumsi dunia belasan tahun lalu, asap knalpot kapal-kapal yang dulunya diarahkan ke udara, disetting agar mengarah ke bumi langsung ke air. Alhasil, permukaan air Danau Toba mulai berminyak-minyak.

 
Pencemaran air semakin berat dengan kehadiran industri dan pertambangan di sekitar Danau Tiba, perhotelan, dan perkapalan yang ditengarai tak becus mengelola limbahnya. Perumahan penduduk di seputar pinggiran KDT bertata letak membelakangi danau juga dipastikan membuang limbah rumah tangga ke Danau Toba.

 
Hadirnya keramba jaring apung dalam skala besar semakin memperparah kualitas air DT, karena sebagian besar pakan ikan mengendap ke dasar danau dan mencemari danau setiap harinya. Di lokasi ditemukan kandungan posfor dan nitrogen yang berasal dari pakan ikan.

 
Ada lagi peternakan babi skala besar di Simalungun, disinyalir membuang limbahnya ke sungai-sungai yang bermuara ke DT. Juga pestisida yang dipakai para petani di KDT, sebagian terbawa arus air ke DT.

 
Menurut hasil pengukuran yang dilakukan tahun 2008 oleh Badan Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara pernah menunjukkan pH (kadar keasaman) air sudah berada di level 8,2 (dalam sklala 6-9).

 
Lantas, bagaimana caranya mengembalikan kualitas air Danau Toba?
Tak perlu sibuk mencari kambing hitam. Jika kita semua mau bergandengan tangan, ekosistem Danau Toba pasti bisa dipulihkan. (dikutip sebagian dari tulisan karmel simatupang/dame)

Komen Facebook