Terjerat Kawat Sling, Harimau Palas akan Dioperasi

201
Dok BBKSDA SumutHarimau Palas, saat masih di dalam perangkap di Desa Hutabargot, Padang Lawas. Kaki depan sebelah kanan harimau sumatera bernama Palas yang berhasil ditangkap Selasa kemarin (16/7/2019) akan dioperasi di tempat barunya di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) di Sumatera Barat.

MEDAN, CACALA.id – Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang beberapa waktu lalu berkeliaran dan meresahkan warga di Padang Lawas, Sumatera Utara, berhasil ditangkap pada Selasa (16/7/2019). Harimau tersebut ternyata memiliki luka di kaki depan sebelah kanan karena jerat kawat sling.

Harimau yang diberi nama Palas itu akan dioperasi di tempat barunya, di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) di Sumatera Barat.

Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) Irzal Azhar mengatakan, harimau inilah yang diduga sebelumnya menerkam serta menewaskan warga di Kabupaten Padang Lawas beberapa waktu lalu. Palas ditangkap menggunakan perangkap berisi seekor kambing di Desa Hutabargot, Kecamatan Sosopan.

“Setelah ditangkap, Palas langsung dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya di Sumatera Barat,” kata Irzal, Kamis (18/7/2019).  Irzal mengatakan, harimau berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berusia lima tahun itu menderita luka di kaki depan sebelah kanannya. Kondisi demikian yang kemungkinan membuat Palas tidak mampu lagi berburu di dalam hutan, sehingga memilih mencari mangsa di perkampungan.

“Kaki kanan depan Palas itu ada luka sepertinya karena jerat kawat sling. Nah, jerat kawat sling itu masih ada di kakinya,” kata Irzal.

Pemilihan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) di Sumatera Barat, karena Barumun Nagari Wildlife Sanctuary di Barumun, sudah tidak memungkinkan untuk menerima tambahan individu harimau. Di BNWS, kata dia, sudah ada keluarga harimau, yakni Monang, harimau jantan dewasa, dan Gadis, harimau betina indukan beserta dua anak umurnya baru sekitar 10 bulan.

Berdasarkan data BBKSDA, kurun 2017-2019 tercatat ada 17 kasus konflik manusia dan harimau di Sumut.

Saat ini, masih dipantau pergerakan harimau yang kerap muncul di wilayah perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Tapanuli Utara. Dalam perkembangan terakhir, harimau memangsa empat ekor kambing di Desa Batang Parsuluman, Kecamatan Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan.

Mengantisipasi kemungkinan terjadinya lagi konflik manusia dan harimau, maka masyarakat diminta tidak melakukan perburuan di hutan, tidak memasang perangkap. Selain itu, juga tidak melakukan perbuatan yang merusak kawasan hutan, seperti penebangan kayu ilegal, yang berdampak terhadap rusaknya habitat harimau. (dewa/kps)

Komen Facebook