Eks Panglima GAM Klarifikasi soal Referendum Aceh

189
Foto: Masriadi/kps Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Muzakkir Manaf yang juga calon gubernur Aceh memberikan keterangan pers usai memberikan hak suara di Desa Mane Kawan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Rabu (15/2/2017).

 

BANDA ACEH, BATAK.co – Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Muzakir Manaf mengklarifikasi pernyataannya terkait keinginan referendum untuk Aceh yang disampaikannya di acara peringatan kesembilan tahun wafatnya Wali Neugara Aceh Tgk Muhammad Hasan Ditiro dan buka bersama di Gedung Amel Banda Aceh, Senin (27/5/2019) lalu.

Staf Khusus Muzakir Manaf Wen Rimba Raya membenarkan bahwa video yang beredar tersebut memang benar klarifikasi dari Muzakir Manaf.

Dalam beberapa waktu terakhir, sebut Wen Rimba Raya, banyak muncul pernyataan negatif dan positif terkait pernyataan Muzakkir Manaf saat Haul Hasan Tiro pada akhir Mei yang lalu, Dengan alasan itu, pria yang akrab disapa Mualem kemudian membuat video klarifikasi.

“Dengan alasan itu, Mualem pada dasarnya ingin menjelaskan kembali statemen beliau, oleh karena itu Mualem bikin video klarifikasi,” jelas Wen Rimba Raya, Rabu (16/5).

Dalam sebuah video yang kini beredar luas, pria yang akrab disapa Mualem ini menyebutkan pernyataan referendum yang ia sampaikan itu bukanlah mewakili rakyat Aceh secara keseluruhan, melainkan pernyataan spontan dirinya pribadi. “Saya lakukan hal tersebut secara spontan kebetulan pada acara peringatan haul meninggalnya Muhammad Hasan di Tiro. Saya menyadari rakyat Aceh saat ini cinta damai dan pro NKRI,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh tersebut.

Dalam video klarifikasi tersebut, Mualem berharap Aceh ke depan harus lebih maju, membangun Provinsi Aceh dalam bingkai NKRI. “Hal-hal lain yang menurut saya belum sesuai pasca MoU Helsinki akan saya buat surat tersendiri guna membuat menuntaskan butir-butir MoU Helsinki ke depan,” katanya.

Sebagaimana diketahui, pada peringatan haul meninggalnya Muhammad Hasan di Tiro, Mualem mengeluarkan komentar yang mengejutkan terkait kondisi Indonesia yang semakin hari semakin memperihatinkan. Saat itu, Mualem menyinggung keadaan politik lalu menyebut solusi referendum.

“Keadilan entah ke mana, demokrasi entah ke mana, jadi Indonesia ini sudah di ambang kehancuran. Mmaka Pak Pangdam saya minta maaf, mungkin Aceh ke depan lebih baik referendum saja,” kata Mualem.

Pernyataan ini pun kemudian mendapat tanggapan negatif dan positif, di antaranya tanggapan yang mengingatkan agar Mualem memperhatikan kembali butir perjanjian alias Mou Helsinki antara Aceh dan Pemerintah Indonesia. (kps)

Komen Facebook