Tsunami Selat Sunda Dipicu Erupsi Gunung Anak Krakatau

176
Tsunami Selat Sunda. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati mengatakan peristiwa tsunami di Pantai Barat Banten dipicu cuaca dan erupsi anak Krakatau.

JAKARTA, BATAK.CO – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan peristiwa tsunami di Pantai Barat Banten tidak dipicu oleh gempa bumi.

“Gelombang tinggi terjadi karena cuaca,” ujar Dwikorita dalam keterangan resminya, Minggu (23/12/2018).

BMKG sebenarnya telah mendeteksi dan memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku dari tanggal 22 Desember pukul 07.00 WIB hingga tanggal 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda.

Selain karena cuaca, tsunami juga terjadi karena erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun karena seismometer rusak? maka tidak diduga akan terjadi tsunami.

“BMKG berkoordinasi dengan Badan Geologi melaporkan bahwa pada 21.03 WIB Gunung Krakatau erupsi kembali sehingga peralatan seismometer setempat rusak. Tetapi seismic Stasiun Sertung merekam adanya getaran tremor terus menerus,” jelas dia.

Berdasarkan rekaman seismik dan laporan masyarakat, peristiwa tsunami tersebut tidak disebabkan oleh aktifitas gempabumi tektonik namun sensor Cigeulis (CGJI) mencatat adanya aktivitas seismik dengan durasi ± 24 detik dengan frekwensi 8-16 Hz pada pukul 21.03 WIB.

Adapun berdasarkan hasil pengamatan tidegauge Serang di Pantai Jambu, Desa Bulakan, Cinangka, Serang, tercatat pukul 21.27 WIB ketinggian gelombang 0,9 meter.

“Kemudian tidegauge Banten di pelabuhan Ciwandan, tercatat pukul 21.33 WIB ketinggian 0.35 meter,” kata Dwikorita.

Selanjutnya, lewat tidegauge Kota Agung di Desa Kota Agung, Kota Agung, Lampung tercatat pukul 21.35 WIB ketinggian 0.36 meter.

Yang terakhir tidegauge Pelabuhan Panjang, Kota Bandar Lampung tercatat pukul 21.53 WIB ketinggian 0.28 meter.

“Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Juga diimbau untuk tetap menjauh dari pantai perairan Selat Sunda, hingga ada perkembangan informasi dari BMKG dan Badan Geologi,” tutupnya. (kps)

Komen Facebook