Bagi Arab Saudi, Mahasiswa Indonesia adalah Jalur bagi ‘Soft Power’

192
Mahasiswa-ilustrasi

 

BATAK.CO – Sejak tahun 1980, pemerintah Arab Saudi telah menggunakan pendidikan untuk menyebarkan Salafisme secara diam-diam.

Ketika Ulil Abshar-Abdalla masih remaja di Pati, Jawa Tengah, ia meraih juara pertama dalam pelajaran bahasa Arab yang diselenggarakan di pesantren daerahnya. Hadiahnya adalah 6-bulan uang kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), sebuah perguruan tinggi di Jakarta yang didirikan dan didanai oleh pemerintah Arab Saudi. Pada akhir enam bulan itu, LIPIA menawarkan kepada Ulil kuliah 6 bulan lagi. Ia menerimanya.

Setelah itu, LIPIA menawarkan kepadanya empat tahun lagi kuliah gratis untuk memperoleh gelar S1 dalam hukum Islam atau Syariah. Ia juga menerimanya. Tahun 1993, setelah lima tahun di LIPIA, Ulil ditawarkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Riyadh. Namun, ia menolak.

“Kalau kita menerimanya, kita akan menjadi pegawai mereka seumur hidup,” kata Ulil Abshar-Abdalla kepada VOA.

“Tetapi mereka membuatnya sangat mudah untuk tetap bersama mereka. Saya berasal dari keluarga miskin, dan tawaran mereka sangat menggoda. Saya kira mereka berhasil menarik beberapa mahasiswa pintar generasi saya dengan cara demikian.”

Sejak tahun 1980, Arab Saudi telah menggunakan pendidikan untuk menyebarkan Salafisme secara diam-diam. Salafisme adalah sejenis Islam fundamentalis di Indonesia, negara yang berpenduduk Muslim yang paling besar di dunia. Kedua jalur usaha ini adalah LIPIA dan beasiswa perguruan tinggi di Arab Saudi.

Salafisme adalah gerakan reformasi ultra-konservatif yang menganjurkan Muslim kembali ke zaman Al-Quran. LIPIA mengajarkan mazhab Wahabi, satu sekte Islam Salafi yang ditafsirkan oleh teolog Sunni abad pertengahan, Ibnu Taimiyah. (gp/ii)

Komen Facebook