Nyanyian Pemuda Halasan

247
Ilustrasi

“Inilah Huta Tinantan, anak muda!” kata seorang pemburu menjawab pertanyaan si Dangol.

Maka si Dangol berkata: “Ya Huta Tinantan, Tuhanlah yang memberkatimu dan seisimu!”

Si Dangol tidak tahu, bahwa di negeri itulah dahulu ayahnya Raja Ripe Mandopang dan ibunya Si Tapi Mombang Pati menikah.

Setelah mereka tiba di rumah adat, para pemburu meniup serunai mereka. Maka berdatanganlah orang-orang kampung itu, juga Raja Tagor Laut menyambut mereka. Setelah pemimpin para pemburu menceritakan apa yang terjadi, takjublah Raja Tagor Laut melihat betapa teraturnya barisan para pemburu dan betapa baiknya cara menyembelih daging rusa. Yang lebih mengherankannya lagi adalah wajah si Dangol. Ia terlihat seperti batu garaga, tapi juga seperti rotan, seperti satu tapi juga seperti tujuh. Ia sampai butuh waktu agak lama mengamati wajah si Dangol. Raja bingung apa yang membuatnya merasa ada sesuatu dengan si Dangol. Tapi sampai lama ia berpikir-pikir, tapi ia tak juga menemukan penyebabnya.

Ia tak tahu bahwa hubungan darahlah yang berbicara. Karena kasihnya kepada adiknya Si Tapi Mombang Puti –ibu si Dangol– lah, maka jantungnya berdebar melihat si Dangol.

Setelah mereka selesai makan di malam itu, datanglah seorang pemuda warga Halasan, seorang penyanyi yang baik. Ia memperdengarkan nyanyiannya diiringi kecapi. Iramanya enak, syairnya indah, membuat siapapun yang mendengar terlena.

Adapun si Dangol duduk di dekat kaki Raja. Pada saat si penyanyi akan memulai lagu keduanya, si Dangol berkata: “Ya Guru, lagumu betul-betul bagus. Dahulu, lagu itulah yang dinyanyikan orang Baritonga untuk menyatakan kasih sayangnya kepada Raja Asiasi. Lagunya sungguh enak, syairnya pun harmonis. Baguslah dinyanyikan ya Guru, karena suaramu pun seperti suara malaikat,” katanya.

Maka bernyanyilah pemuda warga Halasan itu. Setelah ia selesai bernyanyi, ia berkata kepada si Dangol: “Ya anak muda, taukah engkau bermain musik? Jika pedagang yang di Rialubis mengajar anaknya bermain kecapi dan seruling, mendekatlah kemari. Di sini ada kecapi, perdengarkanlah kepada kami kepandaianmu!” (bersambung)

Komen Facebook