Lahir, Langsung Yatim Piatu

412
Bayi lahir-Ilustrasi

BATAK.CO – Usai membereskan urusan rumah tangganya, Raja Mandopang memanggil seluruh hulubalang dan seluruh bala tentaranya lalu berangkat ke medan peperangan untuk melawan musuh.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Si Tapi Mombang Puti terus menanti-nanti suaminya kembali dari medan perang. Namun Raja Ripe Mandopang tak kunjung datang.

Tahu-tahu, suatu hari tersiar berita tentang kematian suaminya ditikam Raja Moragan.

Mendengar suaminya tewas, Si Tapi Mombang Puti sangat sedih. Tapi ia tak sanggup meratap ataupun menangis. Sepatah katapun tak keluar dari mulutnya. Hanya kaki dan tangannya yang lemas. Tubuhnya serasa tak bertenaga. Dalam hati ia meratap, lebih baik mati daripada hidup. Ia merasa penderitaannya tak tertanggungkan oleh manusia.

Melihat kesedihan isteri almarhum rajanya, Raja Rohana berusaha membujuk dan melipur lara Si Tapi Mombang Puti. Katanya: “Apalah untungnya bagimu selalu bersedih? Semua yang lahir di dunia ini pasti akan mati jua. Tuhan yang mencipta langit dan bumi kiranya berbelas kasihan pada orang-orang yang lebih dulu meninggal, dan semoga tetap melindungi kita yang masih hidup. Hilangkanlah kesedihan hatimu. Buat hatimu gembira. Tegakkanlah kepala agar jalan terlihat terang,” bujuknya.

Meski sudah dihibur sedemikian rupa, hati Si Tapi Mombang Puti tetap saja sedih. Dalam masa-masa kesedihannya, ia melahirkan seorang anak laki-laki. Digendongnya anaknya, dan dipeluknya erat-erat.

Lalu katanya: “Lama engkau anakku kutunggu-tunggu anakku, sekarang aku telah melihat wajahmu yang tak punya ayah lagi. Kau yang paling indah dari semua yang lahir dari seorang perempuan. Aku mengalami kesedihan datang ke negeri ini. Dan dalam kesedihan juga engkau kulahirkan. Karena itu, si Dangol Halungunan (Derita dalam Kerinduan) lah namamu,” katanya.

Setelah selesai memberikan nama itu pada putranya tersayang dan mengecup pipi putranya itu, sang ibu pun meninggal. Mulai saat itu, bayi yang baru dilahirkan itu menjadi yatim piatu.

Melihat hal itu, airmata Raja Rohana pun berlinang. Hatinya pedih seperti diiris sembilu. (bersambung)

Komen Facebook